Senin, 29 Agustus 2022
Bengkel Literasi Generaai Muda Kabupaten Banyumas, Penulisan cerpen anak
Rabu, 24 Agustus 2022
Guru penggerak: Koneksi antar Materi Modul 1.4 Budaya Positif
Koneksi antar materi merupakan jejaring antar materi satu dengan lainnya. Koneksi materi modul 1.4 yaitu budaya positif. Materi budaya positif dikaitkan dengan materi modul 1.1, 1.2 dan 1.3.
Budaya positif adalah nilai-nilai, keyakinan-keyakinan, dan
kebiasaan-kebiasaan di sekolah yang berpihak pada murid. Tujuan budaya positif
agar murid dapat berkembang menjadi pribadi yang kritis, penuh hormat dan
bertanggungjawab.
Budaya positif sangat baik bila diterapkan di sekolah. Namun,
kita dapat berdiri sendiri untuk menciptakan budaya positif di sekolah. Kita
perlu kolaborasi dari seluruh elemen atau kekuatan yang ada. Kekuatan bisa
berasal dari dalam maupun dari luar sekolah. Antara lain: Kepala Sekolah, rekan
guru, murid dan orang tua serta lembaga kemasyarakatan.
Penerapan budaya positif di sekolah sangat berkaitan dengan
nilai lainnya. Misalnya penerapan budaya positif “Antri” sangat erat kaitannya
dengan penanaman nilai mandiri dan disiplin. Melalui pembiasaan antri, murid
dapat mengembangkan kemandiriannya melaksanakan antri meskipun tanpa adanya
pengawasan dari guru.
Dari modul 1.1 sampai dengan modul 1.4 ini sangat erat kaitannya
antara satu dengan yang lainnya. Budaya positif dilaksanakan sesuai dengan
tujuan pendidikan menurut Ki Hadjar Dewantara yaitu menuntun segala kodrat yang
ada pada anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang
setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat.
Menuntun tumbuh atau hidupnya kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar
dapat memperbaiki lakunya (bukan dasarnya) hidup dan tumbuhnya kekuatan kodrat
anak. Pendidikan adalah tempat bersemainya benih-benih kebudayaan.
Guru diibaratkan sebagai seorang petani yang mengelola dan
menuntun siswa untuk mengembangkan dan meningkatkan potensi sesuai kodrat
alamnya dan budaya positif agar dapat menjadi murid yang berprofil pelajar
Pancasila (beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan YME, mandiri, bernalar kritis,
kreatif, gotong royong, dan berkebinekaan global). Dalam menyusun program
budaya positif juga diperlukan kolaborasi dengan murid. Sehingga murid tidak
merasa terbebani dalam melaksanakan budaya positif.
Murid diajak membuat kesepakatan yang berpihak pada murid. Hal
ini merupakan implementasi dari “Merdeka Belajar”. Selain itu, guru juga perlu
mengaplikasikan nilai dan peran guru penggerak dalam melaksanakan budaya
positif di sekolah. Antara lain: mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif, dan
berpihak pada murid.
Budaya positif merupakan bagian dari visi guru penggerak. Budaya
positif harus dikembangkan sehingga mampu untuk mewujudkan visi guru penggerak
yang nantinya juga akan lebih luas lagi menjadi visi sekolah. Yaitu
“Terwujudnya merdeka belajar dan murid yang berprofil pelajar Pancasila”.
Untuk mewujudkan visi tersebut diperlukan adanya kolaborasi
kekuatan positif yang ada baik dari luar maupun dari dalam sekolah (pemetaan
kekuatan). Dalam hal ini dapat dilakukan melalui suatu pendekatan yaitu
pendekatan Inkuiri Apresiatif dengan tahapan BAGJA (Buat pertanyaan, Ambil
pelajaran, Gali impian, Jabarkan rencana, Atur eksekusi). Inkuiri Apresiatif
adalah suatu pendekatan berbasis kekuatan positif.
Dari sinilah, peran guru penggerak sangat penting dalam
menularkan kebiasaan baik kepada guru lain dalam membangun budaya positif di
sekolah. Antara lain:
- Guru penggerak harus mampu menjadi teladan
- Menjalin kolaborasi dengan rekan guru lain dan seluruh
warga sekolah dalam melaksanakan budaya positif
- Menggerakkan komunitas praktisi yang ada di sekolah
- Menjadi coach bagi guru lain serta
mampu menjadi pemimpin dalam pembelajaran yang berpihak pada murid
Guru penggerak harus bisa menumbuhkan budaya positif di kelas
menjadi budaya positif di sekolah dan menjadi visi di sekolah. Hal ini dapat
dilaksanakan dengan cara:
- Memulai dari diri sendiri dalam menumbuhkan budaya
positif di kelas dan menjadi teladan bagi seluruh warga sekolah
- Mensosialisasikan dan berkolaborasi dengan rekan guru
serta Kepala Sekolah
- Penuh kesabaran, keuletan, dan positif thinking
terhadap penolakan ide dan pelanggaran
- Terus melakukan refleksi dan perbaikan
Salam Merdeka Belajar !
Menuju Profil Pelajar Pancasila!
Lampiran:
Aksi nyata modul 1.4 Budaya Positif: https://youtu.be/OUeyVcDTT-E
Selasa, 23 Agustus 2022
Guru Penggerak: Penerapan Disiplin Positif Melalui Segitiga Restitusi Modul 1.4 Demonstrasi Kontekstual
Penerapan Disiplin Positif Melalui Segitiga Restitusi
Oleh:
Binton Mustofa
CGP Angkatan 5 Kabupaten Banyumas
Guru SDN 5 Wangon
Unsur utama dalam disiplin
positif yaitu budaya positif. Kata disiplin identik dengan suatu hal
yang kaku bahkan memaksa. Kesannya, setiap siswa melanggar disiplin harus di
hukum.
Konsep disiplin positif artinya kita membimbing murid untuk menumbuhkan disiplin
diri. Disiplin diri tumbuh karena motivasi internal atau kesadaran diri bukan
karena terancam. Tujuannya untuk
mewujudkan murid yang merdeka.
Selain motivasi internal, juga diperlukan pihak lain untuk
mendisiplinkan. Pihak lain yang mendisiplinkan kita disebut motivasi eksternal.
Konsep ini selaras dengan pernyataan Ki Hajar Dewantara bahwa disiplin diri
diperlukan untuk menciptakan murid yang merdeka.
Disiplin diri mampu membuat seseorang menggali kekuatan atau
potensinya. Disiplin diri merupakan kemampuan mengontrol diri, menguasai diri
serta menentukan sikap yang mengacu pada nilai budaya positif.
Penerapan disiplin diri dapat melalui segitiga restitusi. Restitusi
adalah proses
menciptakan kondisi bagi murid untuk memperbaiki kesalahan mereka, sehingga
mereka bisa kembali pada kelompok mereka, dengan karakter yang lebih kuat
(Gossen; 2004).
Restitusi juga proses kolaboratif yang
mengajarkan murid untuk mencari solusi untuk masalah, dan membantu murid
berpikir tentang orang seperti apa yang mereka inginkan, dan bagaimana mereka
harus memperlakukan orang lain (Chelsom Gossen, 1996).
Restitusi membantu murid menjadi lebih
memiliki tujuan, disiplin positif, dan memulihkan dirinya setelah berbuat
salah. Penekanannya bukanlah pada bagaimana berperilaku untuk menyenangkan
orang lain atau menghindari ketidaknyamanan. Namun tujuannya adalah menjadi
orang yang menghargai nilai-nilai kebajikan yang mereka percayai. Karena pada
dasarnya setiap orang memiliki motivasi intrinsik yang mendasari perilakunya.
Melaui restitusi, diharapkan ketika murid
melakukan kesalahan/pelanggaran maka guru dapat menanggapi dengan sikap yang dapat
membuat murid melakukan evaluasi internal. Sehingga murid bisa menemukan solusi
untuk memperbaiki kesalahan dan mendapatkan kembali harga dirinya.
Sederhananya, saya katakan bahwa melalui
restitusi, guru dapat mengambil respon yang bijak saat menemukan murid
melakukan pelanggaran. Respon yang diberikan guru tidak menjatuhkan harga diri
muridnya.
Karena saat murid melakukan kesalahan,
mereka dalam kondisi labil. Jika menanggapinya secara berlebihan akan membuat murid
sakit hati serta jatuh harga dirinya. Bukannya membuat murid sadar akan kesalahan
justru membuat mereka sakit hati/dendam.
Disinilah pentingnya restitusi. Restitusi bisa
menjadi manajemen konflik. Setelah restitusi diperkukan juga posisi kontrol
guru. Dulu, ketika ada pelanggaran murid. Tindakan atau posisi guru adalah
stimulus respon yang reaktif dengan memarahi bahkan memberikan hukuman.
Sekarang di rubah pola stimulus respon
menjadi posisi kontrol. Hukuman bersifat reaktif dan terjadi secara tiba-tiba. Berbeda
dengan konsekuensi yang merupakan kondisi atas resiko setelah melakukan
pelanggaran. Konsekuensi dari awal sudah disadari adanya aturan dan resiko.
Aturan inilah yang menjadi kesepakatan
kelas atau keyakinan bersama. Berdasarkan keyakinan kelas maka ada konstruksi
ketika pelanggaran terjadi. Kosntruksi ini bukan lagi tindakan stimulus respon
tapi lebih pada restitusi. Sedangkan cara guru menanggapi pelanggaran tersebut
adalah posisi kontrol.
Ada lima posisi kontrol guru yaitu penghukum, pembuat merasa bersalah,
teman, pemantau, dan manajer. Segitiga restitusi dapat diterapkan bila
ditemukan murid melakukan pelanggaran keyakinan kelas. Segitiga restitusi
memiliki tiga langah yaitu menstabilkan identitas, validasi tindakan yang
salah, dan menanyakan keyakinan.
Berdasarkan segitiga restitusi, ketika murid melakukan kesalahan
jangan lagsung dimarahi. Kita stabilkan identias dengan menanggapi secara
lembut karena pada dasarnya murid melakukan sikap memiliki motivasi internal.
Kemudian, validasi kesalahan yaitu dengan menanyakan apa
lasannya. Manyakan keyakinan berkaitan dengan apa murid inginkan setelah
melakukan kesalahan. Solusi yang murid temukan agar tidak melakukan kesalahan.
Kemudian guru dorong murid agar yakin terhadap solusinya sehingga tidak terjadi
kesalahan lagi. Penyelesaian konflik seperti ini bisa membuat murid menghindari
kesalahan karena motivasi diri bukan paksaan.
Gambar 1. Segitiga Restitusi
Konstruksi penerapan segitiga restitusi pada murid yang
terlambat sekolah:
Jika murid melakukan pelanggaran, langkah apa yang harus
dilakukan?
Siapa yang mengawasi?
Apakah diberikan hukuman atau memaafkan saja?
Contoh kasus:
Ketika melakukan pembelajaran IPA terdapat siswa datang
terlambat. Apakah siswa tersebut diperbolehkan mengikuti pelajaran atau tidak?
Selama ini kebiasaan guru adalah langsung memaafkan atau membuat
mereka tidak nyaman. Perhatian kita cenderung pada kesalahan yang dilakukan
dari pada mencari cara bagi mereka untuk memperbaiki diri.
Salah satu cara untuk memperbaiki diri agar terwujud disiplin diri dapat dilakukan melaui segitiga restitusi. Segitiga restitusi adalah proses menciptakan kondisi bagi murid untuk memperbaiki kesalahan mereka, sehingga mereka bisa kembali pada kelompok mereka, dengan karakter yang lebih kuat (Gossen; 2004 dalam LMS Guru Penggerak Modul 1.4 Budaya Positif 2021).
Restitusi membantu murid untuk jujur pada diri sendiri dan
mengevaluasi dampak dari kesalahan yang dilakukan. Restitusi memberikan
penawaran bukan paksaan. Sangat penting bagi guru untuk menciptakan kondisi
yang membuat murid bersedia menyelesaikan masalah dan berbuat lebih baik lagi,
dengan berkata, “Semua orang pasti pernah berbuat salah”, bukan mengatakan,
“Kamu harus lakukan ini, kalau tidak maka…”.
Langkah pertama pada bagian dasar segitiga adalah
menstabilkan identitas. Jika anak berbuat salah maka ada kebutuhan dasar mereka
yang tidak terpenuhi. Bagian dasar segitiga restitusi memiliki tujuan untuk
merubah orang yang gagal karena telah berbuat kesalahan menjadi orang yang
sukses.
Kita harus mampu meyakinkan mereka dengan mengatakan kalimat
seperti 1) tidak ada manusia yang sempurna; saya juga pernah melakukan
kesalahan seperti itu. Ketika seseorang dalam kondisi emosional maka otak tidak
akan mampu berpikir rasional, saat inilah kita menstabilkan identitas anak.
Anak kita bantu untuk tenang dan mencari solusi untuk menyelesaikan
permasalahan.
Gambar 2. Anak datang terlambat
Langkah kedua adalah memvalidasi tindakan yang salah. Konsep langkah kedua adalah kita harus memahami kebutuhan dasar yang mendasari tindakan anak berbuat kesalahan. Menurut Teori Kontrol semua tindakan manusia, baik atau buruk, pasti memiliki maksud/tujuan tertentu (LMS Guru Penggerak, 2021). Ketika kita menolak anak yang berbuat salah, dia akan tetap dalam masalah. Yang diperlukan adalah kita memahami alasan melakukan hal tersebut sehingga anak merasa dipahami.
Gambar 3. Proses validasi kesalahan
Langkah ketiga yaitu menanyakan keyakinan. Teori kontrol
menyatakan bahwa kita pada dasarnya termotivasi secara internal. Ketika langkah
1 dan Langkah 2 sukses dilakukan, maka anak akan siap untuk dihubungkan dengan
nilai-nilai yang dia percaya, dan berpindah menjadi orang yang dia inginkan.
Gambar 4. Proses menanyakan keyakinan
Penting menanyakan ke murid tentang kehidupan yang dia inginkan di masa depan. Ketika mereka sudah menemukan gambaran masa depannya, guru dapat membantu murid untuk fokus pada gambarannya.
Melalui segitiga restitusi kita dapat mewujudkan mereka menjadi
murid yang merdeka. Mereka mampu menyelesaikan masalah dengan motivasi internal
dan bertanggung jawab terhadap pilihannya.
Lampiran:
Link Aksi Nyata Modul
1.4 Budaya Positif: Demonstrasi kontekstual 1.4 Budaya Positif
Karya literasi yang
sama telah dimuat di: https://edutainmentnusantara.blogspot.com/
Minggu, 21 Agustus 2022
Perpisahan Guru PAI dengan SDN 5 Wangon
Sabtu, 20 Agustus 2022
Wisata Alam Curug Song di Kebasen Banyumas
Jumat, 19 Agustus 2022
Guru Penggerak: diskusi Kelompok ruang Kolaborasi Modul 1.4
Ruang Kolaborasi:
Hasil Diskusi Kelompok 3 tentang Budaya
Positif
Jumat, 19 Agustus 2022
Pukul 13.00 WIB
Anggota
Kelompok 3:
1.
RUSIYATI
2.BINTON
MUSTOFA
3.ULIL
AZMI
4.DENI
WIWIT M
Ruang kolaborasi membahas tentang analisis
studi kasus berdasarkan teori disiplin positif, posisi kontrol guru, dan
segitiga restitusi.
Kelompok 3 mendapat tugas untuk analisis Studi
kasus 1 dan 4
Kasus
1
Pertanyaan kasus 1:
o
Dalam kasus di atas, langkah-langkah restitusi apa saja yang sudah
dijalankan oleh Ibu Santi?
o
Menurut Anda, apakah restitusi yang diusulkan Fifi dan Natali
sudah sesuai dengan pelanggaran yang telah dibuat? Apakah langkah-langkah
restitusi yang telah diusulkan mereka?
o
Dalam kasus di atas, posisi apakah yang telah diambil oleh Ibu Eni
dalam menangani Fifi dan Natali? Jelaskan jawaban Anda.
o
Jika Anda adalah Pak Hasan, bagaimana Anda menyikapi langkah yang
ditempuh Ibu Santi?
Analisis
kasus:
1. langkah menstabilkan identitas yaitu
dengan mengidentifikasi dua siswa tadi
langkah validasi kesalahan yaitu ibu
kepala memanggil ke dua siswa sebagai bentuk klarifikasi akan kesalahannya
pernyataan keyakinan yaitu bentuk komitmen
yang sudah dilakukan ke dua siswa. harapannya agar tidak melakukan kesalahan
yang sama
2. sudah sesuai. Langkahnya: mereka
mengakui bahwa tidak sesuai keyakinan kelas,usul bagaiman sikap dalam keyakinan
kelas,kirim email ke bu ENi, guru pengganti
3. Posisi kontrol yang diambil sebagai
teman. karena Bu Eni menegur secara halus
4. setuju dengan yang sudah dilakukan bu
Santi, membuat keyakinan kelas dengan murid juga memberitahu serta
mengkonfirmasi guru yang menjadi oengganti jika guru utama berhalangan
Kasus
4
Pertanyaan kasus 4
o Posisi kontrol apa yang telah
dipraktikkan oleh Kepala Sekolah Ibu Suti? Hal-hal apa saja yang dilakukannya
sehingga Anda berkesimpulan demikian?
o Dalam kasus tersebut, bagaimana Dino
dikuatkan, bagaimana Anto dikuatkan oleh Ibu Suti?
o Kira-kira nilai-nilai kebajikan
(keyakinan sekolah) apa yang dituju dalam kasus tersebut? Jelaskan!
Analisa
kasus:
1. Posisi kontrol sebagai manager. berbuat
sesuatu bersama dengan murid, mempersilakan murid mempertanggungjawabkan
perilakunya, mendukung murid agar dapat menemukan solusi atas permasalahannya
sendiri.
2. Pertama Dino dikuatkan dengan diberi
pemahaman bahwa identitasnya seperti sedang marah sekali, sampai diberikan
penguatan bahwa kesalahan itu manusiawi,setelahnya dino diarahkan untuk
menyadari bahwa apa yang dilakukan untuk memperbaiki kancing baju anto.
Kemudian dino membuat solusi sendiri dikuatkan oleh Guru.
3. Nilai kebajikan: Mandiri dan kreatif
Refleksi:
Berdasarkan studi kasus, dapat diambil
kesimpulan bahwa pada kasus 1 dan 4 dalam penerapan budaya positif sudah sesuai
teori perubahan paradigma stimulus kontrol ke teori kontrol, sudah mewujudkan
nilai keyakinan kelas. kebutuhan anak terpenuhi,segitiga restitusi
terjalankan,serta guru berada pada posisi manager.
Lampiran:
Materi presentasi kelompok 3: https://prezi.com/view/u3hXC8AC54px6uRh2OLQ/
Guru Penggerak: Ruang Kolaborasi Modul 1.4 Tentang Budaya Positif
Kamis,
18 agustus 2022, pukul 09.30
Ruang
kolaborasi modul 1.4
Ruang
kolaborasi mulai di buka pukul 09.30. dengan menggunakan google meeting pada
LMS BBGP Jawa tengah.
Kegiatan
RK diawali dengan obrolan terbuka tentang refleski kegiatan 1.3. Menurut salah
satu peserta Mas Ulil Azmi masih ada kegamangan saat unggah tugas 1.3.
Sedangkap
Pak Dedi selaku instruktur merespon dengan mengatakan bahwa sampai hari ini
tidak ada masalah terkait penugasan LMS. Beliau mengajak peserta,”Mari kita
nikmati kegiatan dan kita menjadi bagian terindah dari kegiatan ini.”
Kemudian
pak dedi membuka kegiatan hari ini dengan lafal basmalah sebagai awal untuk
membuka forum diskusi kelompok dalam ruang kolaborasi.
Restitusi
itu anak kita bimbing agar melihat
bagimana dirinya. Kemudian menyadari apa yang menjadi kesalahannya, kemudian
melihat kenapa melakukan kesalahan.
Dari
kesalahan pasti ada kebutuhan dasar. Apabila kebutuhan dasar itu terpenuhi
makan akan mengurangi terjadinya kesalahan yang terulang. Setalah tau
kesalahan, kemudian validasi yaitu apa yang menjadi keinginannya. Tanyakan apa
yang ingin dilakukan. Yakinkan anak untuk mencapai tindakan itu.
Jadi
kita membimbing dan mendorong mereka menemukan kesalahannya. Kemudian memperbaiki
dan yakinkan dalam melakukan tindakan agar tidak terulang.
Guru
harus bisa solutif pada permasalahan anak. Ketika ada masalahan disekolahan
kita tetap memosiskan sebagai orang tua. Sedangkan disiplin positif/budaya
positif bahwa setiap anak memiliki dasar melakukan suatu tindakan. Dan mereka
selalu memiliki nilai positif. Nilai harus digali dan dorong menjadi lebih
baik.
Jalannya
ruang kolaborasi, Peserta di bagi menjadi tiga kelompok. Setiap kelompok
membuat analisis kasus tentang teori disiplin positif, posisi control dan segitiga
restitusi.
Intisari
materi kegiatan ruang kolaborasi:
Apakah yang dimaksud dengan disiplin dan nilai-nilai kebajikan
universal?
Apa perbedaan antara hukuman, konsekuensi, dan restitusi?
Jawaban:
Disiplin adalah rasa ketaatan dan kepatuhan
terhadap nilai- nilai yang dipercaya dan menjadi tanggung jawabnya.
Nilai-nilai kebajikan universal meliputi
hal-hal seperti Keadilan, Tanggung Jawab, Kejujuran, Bersyukur, Lurus Hati,
Berprinsip, Integritas, Kasih Sayang, Rajin, Komitmen, Percaya Diri, Kesabaran.
Hukuman :
1.
Cara untuk mengarahkan
sebuah tingkah laku agar sesuai dengan tingkah laku yang berlaku secara umum
2.
Berbentuk menyakitkan
secara fisik
Konsekuensi :
1.
Berbentuk
memalukan
2.
Berdampak pada psikis
dan menimbulkan rasa malu
3.
Memberikan pelajaran
agar siswa mau mentaati aturan.
Restitusi :
1.
Pilihan alternatif
untuk siswa yang telah melakukan pelanggaran
2.
Memberikan suatu
kesempatan bagi siswa
Kelompok
2:
1. Bagaimanakah merumuskan keyakinan kelas?
2. Apa yang Anda pahami
terkait kebutuhan dasar manusia
Jawaban:
1.
Orientasi kepada siswa tentang pentingnya keyakinan kelas bagi
kelancaran proses pembelajaran, menyepakati waktu diskusi kelas wajib
dilakukan, guru memimpin diskusi terkait kesepakatan, guru menampung ide
gagasan maupun masukan terkait hal yang akan disampaikan, umpan balik,
penyampaian hasil diskusi, merancang poster untuk keyakinan kelas, menyampaikan
hasil rancangan poster, mengevaluasi rancangan poster, mengevaluasi kembali
keyakinan kelas, mensosialisasikan hasil keyakinan kelas yang telah disepakati
dengan siswa
2.
Kebutuhan dasar manusia menurut teori yang saya pahami adalah Paramida kebutuhan
Abraham Maslow. Teori yang dikenal dengan Hirarki Kebutuhan Maslow menjelaskan
bahwa manusia harus memenuhi kebutuhan dari yang terendah sebelum naik ke
kebutuhan tertinggi. Maslow menjelasakn kebutuhan dasar manusia dimulai dari
kebutuhan fisiologis, yaitu kebutuhan dasar untuk mempertahankan dirinya secara
fisik. DIlanjutkan pada tingkatan kebutuahan lainnya hingga pada kebutuhan
aktualisasi diri merupakan kebutuhan yang digunakan untuk menunjukan dirinya
pada orang lain.
Kelompok
3:
Lima posisi kontrol sebagai guru :
1.
Penghukum
2.
Pembuat Rasa Bersalah
3.
Teman
4.
Pemantau
5.
Manajer
Langkah-langkah penerapan
segitiga restitusi :
1)
menstabilkan identitas;
2)
validasi tindakan yang salah;
3)
menanyakan keyakinan.




